orang pinggiran

Merah kan semangat kmu wahai "MAHASISWA"

Foto Saya
Nama:
Lokasi: sidoarjo city of london, mana aja

saya adalah orang yang tidak bisa berbuat apa2 jika itu memang sudah takdir dari sang kuasa... kadang sifatku ini juga menunjukan sifat manusia yg arogan kadang simpatik kadang wibawa, disiplin dan masih banyak lainya lagi... yg pasti amat sulit bagiku untuk tetap menunjukan sifat kita yang baik terhadap orang lain

Jumat, 19 September 2008

Pergerakan Aksi Massa Mahasiswa Indonesia Terjebak dalam Tong Kosong?

Tong kosong, nyaring bunyinya tapi sedikit manfaatnya selain memekakkan telinga. Aksi massa yang dilakukan oleh seratusan orang yang mengaku mahasiswa kemarin dilaporkan sangat anarkis. Apakah mereka betul adalah mahasiswa? Mahasiswa yang seyogyanya menggunakan akal pikir otaknya untuk bergerak menegakkan kebenaran ternyata hanyalah kumpulan orang yang telah berubah menjadi sangar dan mengerikan. Itukah cermin calon pemimpin bangsa Indonesia? Selalu mengutamakan kekerasan dalam bertindak?



Aksi massa yang dilakukan mahasiswa kemarin benar-benar suatu pergerakan yang tidak cerdas. Lebih banyak kerugiannya dibanding keuntungan dari aksi tersebut. Satu pertanyaan yang muncul adalah apakah benar mahasiswa murni memperjuangkan rakyat yang sedang menderita atau justru menjadi ALAT POLITIK bagi perebutan kekuasaan di Indonesia?

Apa yang diperoleh oleh rakyat dengan aksi massa tersebut? Selain menghasilkan :
- Kemacetan parah, sehingga kegiatan banyak orang terhambat. Produktivitas orang-orang bekerja juga terhambat. Banyak sopir-sopir angkutan masal yang penghasilannya berkurang karena tidak bisa bekerja.
- Rasa takut dan kecemasan. Bagaimana rasanya jika anda adalah ibu-ibu yang ada di bus yang dihentikan dan diusir keluar? atau bagaimana rasanya jika anda menjadi penumpang mobil berplat merah yang digulingkan dan dibakar?
- Korban-korban kekerasan fisik dari mahasiswa dan polisi.
- Kerusakan material baik pagar dewan, mobil yang dibakar, maupun fasilitas umum lainnya yang nota bene adalah hasil uang rakyat.
- Mahasiswa turut memperparah global warming dengan membakar ban bekas!!!


Jika pergerakan mahasiswa hanya dipandang sebagai kekuatan massa, maka peristiwa tahun 1998 akan kembali terjadi. Kekuatan hebat yang bisa menggulingkan kekuasaan tapi tidak bisa diandalkan untuk membangun negeri ini.

Saya sendiri salut dengan orang-orang muda yang masih bertahan dengan gerakan nyata selain aksi massa. Lihatlah aksi mereka dalam KULIAH KERJA NYATA, dalam PRAKTEK KERJA PROFESI, ataupun orang-orang muda yang bergerak secara personal memajukan masyarakat sekitar dengan suatu pemberdayaan, atau mahasiswa-mahasiswa yang menciptakan suatu inovasi baru sebagai solusi menghadapi kesulitan hidup di negeri ini.

Aksi massa tentang kenaikan BBM menurut saya adalah sebuah isu untuk menggulingkan kekuasaan, bukan untuk memperjuangkan rakyat dan kemajuan bangsa Indonesia sendiri. Apa gunanya BBM murah jika pada akhirnya kita menjadi orang yang tergantung dengan minyak yang langka? Hal yang seharusnya dirubah adalah bagaimana perilaku kita dalam menghemat penggunaan BBM bukan menuntut harga BBM diturunkan.

Baru-baru ini saya mendengar tentang gerakan masyarakat pecinta air (egmca.org) yang menemukan teknologi baru untuk menghemat BBM. Juga berbagai berita tentang kreativitas seseorang dalam memanfaatkan BBM alternatif seperti gas sebagai BBM motor. Kesulitan BBM membuat mereka menggerakkan kreativitasnya dan hal inilah yang justru membantu masyarakat untuk semakin maju dan tidak bergantung pada sumber daya alam yang terbatas.

Lalu akankah gerakan massa mahasiswa berubah? Jika mahasiswa hanya mengutamakan kekerasan dan aksi massa anarkis, maka lambat laut simpati masyarakat akan berkurang. Mahasiswa bukan lagi agent of change tapi agent of terror. Hanya bisa menggulingkan tanpa bisa membangun, itulah calon pemimpin bangsa Indon esia dan semakin terpuruklah bangsa Indon esia.

Hai mahasiswa Indon esia, mana akal pikirmu? Jika hanya kekerasan, semua orang juga bisa melakukan kekerasan. Jika hanya bisa menekan pemerintah, semua orang juga bisa menekan pemerintah. Jika hanya bisa menggulingkan kekuasaan, tanpa menjadi mahasiswa pun orang bisa menggulingkan kekuasaan.

Suatu refleksi buat saya untuk kembali lagi ke masyarakat dalam Praktek Kerja Profesi, masyarakat kecil tidak membutuhkan demo, atau turunnya BBM. Mereka lebih membutuhkan tangan-tangan yang mendampingi mereka, mendengarkan keluh kesah mereka, melatih mereka untuk menyiasati beratnya hidup, memotivasi dan membuka kesempatan mereka untuk berkarya, melepas mental miskin dan ketergantungan dalam kemiskinan struktural, serta menjadi suara mereka yang nyaris tak terdengar oleh tong kosong para mahasiswa dalam aksi massanya.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda