orang pinggiran

Merah kan semangat kmu wahai "MAHASISWA"

Foto Saya
Nama:
Lokasi: sidoarjo city of london, mana aja

saya adalah orang yang tidak bisa berbuat apa2 jika itu memang sudah takdir dari sang kuasa... kadang sifatku ini juga menunjukan sifat manusia yg arogan kadang simpatik kadang wibawa, disiplin dan masih banyak lainya lagi... yg pasti amat sulit bagiku untuk tetap menunjukan sifat kita yang baik terhadap orang lain

Senin, 22 September 2008

Fenomerna Tindihan Waktu Tidur (Sleep Paralysis)

Pernah terbangun dari tidur, tapi sulit bergerak ataupun berteriak? Tenang, Anda bukan sedang diganggu mahkluk halus. Ini penjelasan ilmiahnya!

KEJADIAN ini sering saya alami sejak zaman SMA, bahkan hingga sekarang (meski frekuensinya sudah sangat berkurang). Saat hendak bangun dari tidur atau baru saja terlelap, saya merasa seperti ditindih sesuatu. Ini membuat saya sulit bangun ataupun berteriak minta tolong.



Lalu, ada sedikit rasa dingin menjalar dari ujung kaki ke seluruh tubuh. Untuk bisa bangun, satu-satunya cara adalah menggerakkan ujung kaki, ujung tangan atau kepala sekencang-kencangnya hingga seluruh tubuh bisa digerakkan kembali.

Setelah itu, biasanya saya tidak berani tidur. Takut kesadaran saya hilang atau kejadian itu berulang lagi. Apalagi saat kejadian, saya seperti melihat sebuah bayangan di kegelapan.

Pernah saya saya bercerita tentang hal ini pada ibu saya. Beliau mengatakan saya mengalami tindihan. Dan menurut kepercayaan orang tua, yang menindih adalah makhluk halus. Ih, seram ya! Namun, logika saya berusaha mencari penjelasan ilmiah. Inilah hasilnya

Sleep Paralysis

Menurut medis, keadaan ketika orang akan tidur atau bangun tidur merasa sesak napas seperti dicekik, dada sesak, badan sulit bergerak dan sulit berteriak disebut sleep paralysis alias tidur lumpuh (karena tubuh tak bisa bergerak dan serasa lumpuh). Hampir setiap orang pernah mengalaminya. Setidaknya sekali atau dua kali dalam hidupnya.

Sleep paralysis bisa terjadi pada siapa saja, lelaki atau perempuan. Dan usia rata-rata orang pertama kali mengalami gangguan tidur ini adalah 14-17 tahun. Sleep paralysis alias tindihan ini memang bisa berlangsung dalam hitungan detik hingga menit. Yang menarik, saat tindihan terjadi kita sering mengalami halusinasi, seperti melihat sosok atau bayangan hitam di sekitar tempat tidur. Tak heran, fenomena ini pun sering dikaitkan dengan hal mistis.

Di dunia Barat, fenomena tindihan sering disebut mimpi buruk inkubus atau old hag berdasarkan bentuk bayangan yang muncul. Ada juga yang merasa melihat agen rahasia asing atau alien. Sementara di beberapa lukisan abad pertengahan, tindihan digambarkan dengan sosok roh jahat menduduki dada seorang perempuan hingga ia ketakutan dan sulit bernapas.

Kurang Tidur

Menurut Al Cheyne, peneliti dari Universitas Waterloo, Kanada, sleep paralysis, adalah sejenis halusinasi karena adanya malfungsi tidur di tahap rapid eye movement (REM).

Sebagai pengetahuan, berdasarkan gelombang otak, tidur terbagi dalam 4 tahapan. Tahapan itu adalah tahap tidur paling ringan (kita masih setengah sadar), tahap tidur yang lebih dalam, tidur paling dalam dan tahap REM. Pada tahap inilah mimpi terjadi.

Saat kondisi tubuh terlalu lelah atau kurang tidur, gelombang otak tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya. Jadi, dari keadaan sadar (saat hendak tidur) ke tahap tidur paling ringan, lalu langsung melompat ke mimpi (REM).

Ketika otak mendadak terbangun dari tahap REM tapi tubuh belum, di sinilah sleep paralysis terjadi. Kita merasa sangat sadar, tapi tubuh tak bisa bergerak. Ditambah lagi adanya halusinasi muncul sosok lain yang sebenarnya ini merupakan ciri khas dari mimpi.

Selain itu, sleep paralysis juga bisa disebabkan sesuatu yang tidak dapat dikontrol. Akibatnya, muncul stres dan terbawa ke dalam mimpi. Lingkungan kerja pun ikut berpengaruh. Misalnya, Anda bekerja dalam shift sehingga kekurangan tidur atau memiliki pola tidur yang tidak teratur.

Jangan Anggap Remeh

Meski biasa terjadi, gangguan tidur ini patut diwaspadai. Pasalnya, sleep paralysis bisa juga merupakan pertanda narcolepsy (serangan tidur mendadak tanpa tanda-tanda mengantuk), sleep apnea (mendengkur), kecemasan, atau depresi.

Jika Anda sering mengalami gangguan tidur ini, sebaiknya buat catatan mengenai pola tidur selama beberapa minggu. Ini akan membantu Anda mengetahui penyebabnya. Lalu, atasi dengan menghindari pemicu. Bila tindihan diakibatkan terlalu lelah, coba lebih banyak beristirahat.

Kurang tidur pun tidak boleh dianggap remeh. Jika sudah menimbulkan sleep paralysis, kondisinya berarti sudah berat. Segera evaluasi diri dan cukupi kebutuhan tidur. Usahakan tidur 8-10 jam pada jam yang sama setiap malam.

Perlu diketahui juga, seep paralysis umumnya terjadi pada orang yang tidur dalam posisi telentang (wajah menghadap ke atas dan hampir nyenyak atau dalam keadaan hampir terjaga dari tidur). Itu sebabnya, kita perlu sering mengubah posisi tidur untuk mengurangi risiko terserang gangguan tidur ini.

Nah, jika tindihan disertai gejala lain, ada baiknya segera ke dokter ahli tidur atau laboratorium tidur untuk diperiksa lebih lanjut. Biasanya dokter akan menanyakan kapan tindihan dimulai dan sudah berlangsung berapa lama. Catatan yang telah Anda buat tadi akan sangat membantu ketika memeriksakan diri ke dokter.

Mitos Sleep Paralysis Di Berbagai Negara

- Di budaya Afro-Amerika, gangguan tidur ini disebut the devil riding your back hantu atau hantu yang sedang menaiki bahu seseorang.

- Di budaya China, disebut gui ya shen alias gangguan hantu yang menekan tubuh seseorang.

- Di budaya Meksiko, disebut se me subio el muerto dan dipercaya sebagai kejadian adanya arwah orang meninggal yang menempel pada seseorang.

- Di budaya Kamboja, Laos dan Thailand, disebut pee umm, mengacu pada kejadian di mana seseorang tidur dan bermimpi makhluk halus memegangi atau menahan tubuh orang itu untuk tinggal di alam mereka.

- Di budaya Islandia, disebut mara. Ini adalah kata kuno bahasa Island. Artinya hantu yang menduduki dada seseorang di malam hari, berusaha membuat orang itu sesak napas dan mati lemas.

- Di budaya Tuki, disebut karabasan, dipercaya sebagai makhluk yang menyerang orang di kala tidur, menekan dada orang tersebut dan mengambil napasnya.

- Di budaya Jepang, disebut kanashibari, yang secara literatur diartikan mengikat sehingga diartikan seseorang diikat oleh makhluk halus.

- Di budaya Vietnam, disebut ma de yang artinya dikuasai setan. Banyak penduduk Vietnam percaya gangguan ini terjadi karena makhluk halus merasuki tubuh seseorang.

- Di budaya Hungaria, disebut lidercnyomas dan dikaitkan dengan kata supranatural boszorkany (penyihir). Kata boszorkany sendiri berarti menekan sehingga kejadian ini diterjemahkan sebagai tekanan yang dilakukan makhluk halus pada seseorang di saat tidur.

- Di budaya Malta, gangguan tidur ini dianggap sebagai serangan oleh Haddiela (istri Hares), dewa bangsa Malta yang menghantui orang dengan cara merasuki orang tersebut. Dan untuk terhindar dari serangan Haddiela, seseorang harus menaruh benda dari perak atau sebuah pisau di bawah bantal saat tidur.

- Di budaya New Guinea, fenomena ini disebut Suk Ninmyo. Ini adalah pohon keramat yang hidup dari roh manusia. Pohon keramat ini akan memakan roh manusia di malam hari agar tidak menggangu manusia di siang hari. Namun, seringkali orang yang rohnya sedang disantap pohon ini terbangun dan terjadilah sleep paralysis.


Read more!

Jumat, 19 September 2008

Pergerakan Aksi Massa Mahasiswa Indonesia Terjebak dalam Tong Kosong?

Tong kosong, nyaring bunyinya tapi sedikit manfaatnya selain memekakkan telinga. Aksi massa yang dilakukan oleh seratusan orang yang mengaku mahasiswa kemarin dilaporkan sangat anarkis. Apakah mereka betul adalah mahasiswa? Mahasiswa yang seyogyanya menggunakan akal pikir otaknya untuk bergerak menegakkan kebenaran ternyata hanyalah kumpulan orang yang telah berubah menjadi sangar dan mengerikan. Itukah cermin calon pemimpin bangsa Indonesia? Selalu mengutamakan kekerasan dalam bertindak?



Aksi massa yang dilakukan mahasiswa kemarin benar-benar suatu pergerakan yang tidak cerdas. Lebih banyak kerugiannya dibanding keuntungan dari aksi tersebut. Satu pertanyaan yang muncul adalah apakah benar mahasiswa murni memperjuangkan rakyat yang sedang menderita atau justru menjadi ALAT POLITIK bagi perebutan kekuasaan di Indonesia?

Apa yang diperoleh oleh rakyat dengan aksi massa tersebut? Selain menghasilkan :
- Kemacetan parah, sehingga kegiatan banyak orang terhambat. Produktivitas orang-orang bekerja juga terhambat. Banyak sopir-sopir angkutan masal yang penghasilannya berkurang karena tidak bisa bekerja.
- Rasa takut dan kecemasan. Bagaimana rasanya jika anda adalah ibu-ibu yang ada di bus yang dihentikan dan diusir keluar? atau bagaimana rasanya jika anda menjadi penumpang mobil berplat merah yang digulingkan dan dibakar?
- Korban-korban kekerasan fisik dari mahasiswa dan polisi.
- Kerusakan material baik pagar dewan, mobil yang dibakar, maupun fasilitas umum lainnya yang nota bene adalah hasil uang rakyat.
- Mahasiswa turut memperparah global warming dengan membakar ban bekas!!!


Jika pergerakan mahasiswa hanya dipandang sebagai kekuatan massa, maka peristiwa tahun 1998 akan kembali terjadi. Kekuatan hebat yang bisa menggulingkan kekuasaan tapi tidak bisa diandalkan untuk membangun negeri ini.

Saya sendiri salut dengan orang-orang muda yang masih bertahan dengan gerakan nyata selain aksi massa. Lihatlah aksi mereka dalam KULIAH KERJA NYATA, dalam PRAKTEK KERJA PROFESI, ataupun orang-orang muda yang bergerak secara personal memajukan masyarakat sekitar dengan suatu pemberdayaan, atau mahasiswa-mahasiswa yang menciptakan suatu inovasi baru sebagai solusi menghadapi kesulitan hidup di negeri ini.

Aksi massa tentang kenaikan BBM menurut saya adalah sebuah isu untuk menggulingkan kekuasaan, bukan untuk memperjuangkan rakyat dan kemajuan bangsa Indonesia sendiri. Apa gunanya BBM murah jika pada akhirnya kita menjadi orang yang tergantung dengan minyak yang langka? Hal yang seharusnya dirubah adalah bagaimana perilaku kita dalam menghemat penggunaan BBM bukan menuntut harga BBM diturunkan.

Baru-baru ini saya mendengar tentang gerakan masyarakat pecinta air (egmca.org) yang menemukan teknologi baru untuk menghemat BBM. Juga berbagai berita tentang kreativitas seseorang dalam memanfaatkan BBM alternatif seperti gas sebagai BBM motor. Kesulitan BBM membuat mereka menggerakkan kreativitasnya dan hal inilah yang justru membantu masyarakat untuk semakin maju dan tidak bergantung pada sumber daya alam yang terbatas.

Lalu akankah gerakan massa mahasiswa berubah? Jika mahasiswa hanya mengutamakan kekerasan dan aksi massa anarkis, maka lambat laut simpati masyarakat akan berkurang. Mahasiswa bukan lagi agent of change tapi agent of terror. Hanya bisa menggulingkan tanpa bisa membangun, itulah calon pemimpin bangsa Indon esia dan semakin terpuruklah bangsa Indon esia.

Hai mahasiswa Indon esia, mana akal pikirmu? Jika hanya kekerasan, semua orang juga bisa melakukan kekerasan. Jika hanya bisa menekan pemerintah, semua orang juga bisa menekan pemerintah. Jika hanya bisa menggulingkan kekuasaan, tanpa menjadi mahasiswa pun orang bisa menggulingkan kekuasaan.

Suatu refleksi buat saya untuk kembali lagi ke masyarakat dalam Praktek Kerja Profesi, masyarakat kecil tidak membutuhkan demo, atau turunnya BBM. Mereka lebih membutuhkan tangan-tangan yang mendampingi mereka, mendengarkan keluh kesah mereka, melatih mereka untuk menyiasati beratnya hidup, memotivasi dan membuka kesempatan mereka untuk berkarya, melepas mental miskin dan ketergantungan dalam kemiskinan struktural, serta menjadi suara mereka yang nyaris tak terdengar oleh tong kosong para mahasiswa dalam aksi massanya.


Read more!

Cerita Tentang Pergerakan Mahasiswa

Malam ini sepulang dari misa sore, saya berdiskusi dengan adek saya tentang pergerakan mahasiswa. Adek saya adalah salah satu petinggi BEM di kampusnya saat ini. Dia bercerita mengenai dinamika dan kondisi gerakan mahasiswa di kampusnya itu. Ada banyak cerita yang muncul, mulai dari cerita yang heroik sampai cerita yang paling konyol.




Cukup banyak cerita yang sama dengan pengalaman saya sewaktu di fisipol tempo dulu. Cerita tentang perjuangan mahasiswa dengan pergerakannya yang ingin membela rakyat kecil dengan menegakkan keadilan di negeri ini. Sungguh merupakan suatu niatan yang mulia dan sudah menjadi tugas mahasiswa sebagai agent of change di negeri yang sedang belajar berdemokrasi ini.

Sejarah telah membuktikan bahwa gerakan mahasiswa merupakan kekuatan politik yang cukup diperhitungkan di negeri ini. Saya pribadi kagum dan salut dengan keberanian teman-teman yang berjuang dalam pergerakan mahasiswa untuk memperjuangkan hak-hak rakyat kecil. Dulu waktu di SMA saya sangat menyukai pelajaran Tata Negara dan juga Wawasan Kebangsaan. Saya tertarik dengan dunia politik dan sering berdiskusi dengan teman atau kakak kelas yang telah menjadi aktivis gerakan. Pertama kali mengenal teknik-teknik melakukan demo pada waktu melaksanakan OSPEK di fakultas fisipol. Hal ini membuat saya semakin bersemangat dan berminat untuk memasuki salah satu gerakan di kampus fisipol pada era 1998. Namun niatan itu saya urungkan ketika saya melihat beberapa fenomena yang tidak sehat dalam dunia gerakan mahasiswa itu sendiri.

Beberapa diantaranya adalah :
- Gerakan mahasiswa identik dengan intimidasi dan kekerasan. Mahasiswa yang katanya anti militerisme ternyata justru memelihara karakter kekerasan militer dengan melakukan intimidasi pada orang-orang yang berbeda pendapat. Pemeliharaan budaya militerisme dan intimidasi bisa dilihat dari OSPEK di tahun 90an waktu itu. Saya dan beberapa teman saya pernah disidang dan diintimidasi karena berbeda pendapat dengan gerakan aliran tertentu.

- Setiap gerakan mahasiswa memiliki visi yang berbeda-beda dan terlalu eksklusif dengan kelompoknya sendiri sehingga saya seringkali melihat satu sama lain malah sibuk berkelahi sendiri. Mereka cenderung membela kepentingan berdasarkan kebenaran menurut kelompoknya sendiri.

- Anarkis. Kebanyakan demonstrasi berakhir dengan kerusuhan dan pengrusakan hasil-hasil pembangunan sehingga negeri ini justru tidak pernah maju dalam pembangunan namun semakin rusak dan kacau.

- Komitmen sesaat dan kemunafikan. Hampir sama dengan apa yang diceritakan dalam film GIE. Beberapa senior aktivis gerakan jaman dahulu ketika sudah menduduki kursi pemerintahan meninggalkan komitmennya karena uang ataupun kesenangan lainnya. Bisa dilihat dari daftar koruptor yang beberapa diantaranya mempunyai track record sebagai mantan aktivis gerakan mahasiswa.

- Beberapa fakta yang pernah beredar di kalangan dosen menyebutkan bahwa sebagian besar mahasiswa yang menjadi aktivis demo dalam suatu gerakan mahasiswa tidak memiliki prestasi akademik di kampusnya. Muncul sebuah persepsi bahwa gerakan mahasiswa hanyalah sebuah tempat pelarian masalah orang-orang yang tak berakal. Ini dikuatkan dengan budaya mengutamakan kekerasan dalam tiap aksi. Lebih memilih menggunakan otak di kaki daripada di kepala ?

Cerita adek saya membuat saya semakin yakin bahwa beberapa fenomena yang tidak sehat diatas masih saja terjadi saat ini. Jika saja gerakan mahasiswa bisa melepaskan diri dari hal - hal yang tersebut di atas, saya yakin semakin banyak orang yang bersimpati dan mendukung pergerakan mahasiswa.

Dalam suatu kesempatan, seorang adek kelas saya menuliskan sebuah semboyan yang berbunyi “Mendidik Rakyat dengan Pergerakan dan Mendidik Penguasa dengan Perlawanan”. Sebuah semboyan yang cukup bagus filosofinya dan juga sering diusung oleh sebuah gerakan mahasiswa tertentu.

Pertanyaan saya adalah :
- Apakah kerusuhan anarkis dalam setiap demo yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan kesalahan tafsir mahasiswa terhadap semboyan ini? Menafsirkan pergerakan dan perlawanan sebagai sebuah aksi radikal yang berujung pada kekerasan?

Jika benar demikian, saya rasa akan terjadi sebuah peperangan yang berkepanjangan antar saudara sebangsa sendiri. Hal ini disebabkan karena demokrasi merupakan pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sebagian rakyat dididik untuk bergerak dan melawan penguasa yang merupakan bagian rakyat yang lain. Sedangkan sebagian rakyat lain yang duduk sebagai penguasa selalu bersiap untuk menghadapi perlawanan dari rakyat yang lainnya. Maka terjadilah perang dari rakyat, oleh rakyat dan untuk kehancuran rakyat itu sendiri.

Tidakkah seharusnya Rakyat dan Penguasa adalah mitra abadi yang seharusnya saling membangun dan saling melengkapi satu sama lain? Sepertinya tidak untuk di negeri ini. ;)


Read more!

Selasa, 16 September 2008

Mahasiswa dan Sendal Jepit

“Heh, kenapa pakai sendal jepit masuk kuliah? Keluar kamu!”

“Apa salahnya jika saya masuk memakai sendal jepit Pak?” Mahasiswa itu tampak gerah ketika dosen mengusirnya.

“Tidak sopan!”


“Hah! Tidak sopan? Dimana letak ketidaksopanannya? Lucu yah Bapak ini, master tapi kok tidak bisa berpikir rasional sih. Apa hubungannya ketidaksopanan dengan sendal jepit Pak? Maunya Bapak lebih mempertanyakan apakah saya kerja tugas, apakah saya baca buku, atau sampai dimana diskusi saya mengenai mata kuliah ini!”

“Banyak bicara kamu! Tutup pintu dari luar…!” Wajah sang dosen tampak kemerahan.

Tanpa pikir panjang, mahasiswa itu segera berdiri dari tempat duduknya. Ia melenggang seenaknya, tampangnya begitu kesal dengan sikap dosen yang mengusirnya. Salah satu tangannya memegang sebuah binder berisi kertas seadanya sedangkan tangan lainnya mengurut kepalanya yang mungkin pening. Dosen baru saja mengusirnya dari ruangan, ia tidak berhak mengikuti kuliah kali ini. Tetapi mahasiswa yang menggunakanku ini tampaknya tidak peduli dengan pengusiran tersebut, ia mengayunkan aku sesuka hati keluar dari ruangan. Tampak begitu cuek dengan tatapan mahasiswa lain yang menggenakan sepatu. Dia tidak peduli.

Belum cukup sejam aku mengalasi kaki. Aku terpilih untuk ditukar dengan uang, mengalahkan sainganku yang lain di warung Mace, sebuah warung kecil di samping pondokan tempat mahasiswa ini tinggal. Aku sebenarnya tidak tahu persis nama tuan pemilik warung tempat diriku di jual, tetapi begitulah yang sering aku dengar, Mace, yah mahasiswa yang berbelanja di warung kecil itu kerap memanggil pemilik warung dengan sebutan Mace. Beberapa hari yang lalu aku akhirnya tau kalau Mace itu adalah panggilan gaul untuk Mama atau Ibu. Mungkin mahasiswa perantau itu merindukan sosok ibu mereka di kampung, dan Mace yang menyediakan warung makan sekaligus barang kebutuhan sehari-hari itu bisa menepis sedikit rindu mereka. Di warung itu mereka bisa makan, makanan seperti masakan di rumah, dan jika kirimin belum datang kadang-kadang mereka mengutang dulu.

Orang yang melihatku pasti akan tahu persis kalau diriku masih baru, belum lama keluar dari plastik yang membungkusku. Setiap permukaanku masih keset, bahkan tak jarang menghasilkan suara mencicit. Warnaku yang terdiri atas dua warna masih sangat cerah, tidak kumal. Karetnya masih tebal. Tetapi mengapa dosen itu melarangnya masuk mengikuti kuliah hanya karena memakaiku? Bukankah aku jauh lebih bersih dibandingkan sepatu-sepatu yang dikenakan mahasiswa-mahasiswa lain?

Mungkin di pondokan sana, tempat mahasiswa ini tinggal, orang yang membeliku di warung Mace tengah kelimpungan mencariku. Tadi setelah ia membeliku, ia sempat memakaiku masuk ke kamar mandi. Setelah itu ia masuk kamar dan menutup pintunya. Karena buru-buru hendak masuk kuliah, orang ini langsung saja menyambarku. Aku yang baru saja di beli telah raib digunakan oleh mahasiswa yang bermaksud baik ingin mencari ilmu, tetapi malah diusir karena mengenakanku. Bisa jadi ia mendapatkan karma karena telah memakai barang yang bukan miliknya. Aku rasa bukan itu, aku menjadi terlarang karena manusia-manusia itu membuat aturan yang menyesakkan, etika bersepatu yang entah perbuatan siapa, mungkin hanya isu yang sengaja di sebar pembuat sepatu agar produknya laku.

Pijakanku memasuki sebuah gedung. Isi gedung terlihat agak berantakan. Di tempat ini, lebih banyak mahasiswa yang menggunakan teman-temanku, sesama sendal jepit. Beberapa di antara teman-temanku itu sudah tua dan usang bahkan telah menipis. Beberapa di antaranya meski sudah tua tapi masih bersih, tampaknya sang pemilik begitu merawatnya. Dan beberapa lainnya bertuliskan nama sang pemilik sebagai sebuah identitas.

Mahasiswa itu memarkirku di depan pintu. Melepasnya begitu saja hingga membuatku tergeletak tak beraturan, bahkan bagian kiriku tertelungkup karena di lepas bebas, tampaknya ia melepasku dengan rasa jengkel yang membuncah dan di lampiaskannya padaku. Ia pun memasuki sebuah ruangan tanpa alas kaki, ruangan yang dipenuhi mahasiswa.

“Kok lesuh?” tanya mahasiswa lain di dalam ruangan.

“Diusir dosen gara-gara memakai sendal jepit. Huh kesalnya…” Ia pun duduk di atas tikar tepat di samping temannya. “Kenapa sih dilarang masuk kuliah kalau memakai sendal jepit?”

“Hehe… Katanya sendal jepit tidak mencirikan intelektualitas. Tidak berkelas. Tapi kita ini kan mahasiswa, kenapa harus mengikuti aturan yang tak jelas seperti itu. Hehehe…”

“Iya, masalahnya pembatasan tidak logis itu membuat kita tak mampu mengaktualisasikan diri.

“Sudahlah! Oh iya, tadi kamu dicari ketua himpunan, katanya proposal untuk kegiatan besok kamu simpan di mana?”

Percakapan mereka pun berlanjut, tampak begitu serius.

###

“Sendal jepit siapa ini? Pinjam ya!” Belum juga ada jawaban dari pertanyaannya, mahasiswa lain segera mengenakanku. Membawaku berjalan menyusuri koridor hingga tiba di depan ruangan lain yang juga dihuni oleh beberapa mahasiswa. Di dalam sana, ia di sambut tiga rekannya yang akan mengajaknya bermain domino.

“Malas pakai sepatu! Gerah!” ucap seorang mahasiswa di depan pintu ruangan lain, ruangan yang berhadapan dengan tempatku di parkir. Tampak ia menjinjing sepatu yang telah usang.

“Jadi? Bukannya kamu tidak membawa sendal?” ucap mahasiswa lainnya yang tengah memegang map transparan berwarna hijau yang tampaknya berisi kertas-kertas.

Mahasiswa pertama melihatku, melihat arah mata temannya, mahasiswa lainnya ikut memandangiku. Mahasiswa pertama melangkah dengan hati-hati. Ia melirik ke dalam ruangan, yang dia lihat hanya empat orang yang disibukkan dengan kartu domino. Segera ia mengenakanku dan segera berjalan meninggalkan gedung itu bersama temannya.

Kaki dari kedua mahasiswa itu terdengar jelas menghentak lantai-lantai kampus. Menghentakkan dua pasang sendal jepit menelusuri koridor. Membawaku berjalan menjejaki tempat-tempat baru tapi mungkin tidak bagi sendal jepit di sebelahku yang tampak telah tua dan menipis.

“Aku lebih suka memakai sendal jepit, lebih nyaman. Sepatu adalah penyiksaan dan penindasan!”

“Aku rasa semua orang akan sependapat dengan hal itu. Aku juga tak begitu menyukai barang yang sangat menggerahkan itu. Memakainya berjam-jam membuat kakiku terasa terbakar.”

“Lihat sendal jepitku ini memang sudah butut tapi masalah pengalaman jangan di tanya, dia sudah senior, sudah makan asam garam jalanan jenis apapun! Malah kalau kamu tanya alamat ke dia pasti dia bakal mengantarkan kamu kesana.”

“Hallah… kamu ada-ada saja. Entah sendal jepit siapa ini, kayaknya masih baru, masih mulus.”

“Hahahaha…” Keduanya tertawa begitu renyah.

###

Aku sangat bahagia diciptakan sebagai sendal jepit, walaupun di letakkan di bawah dan diinjak-injak, setidaknya aku berguna bagi manusia. Aku melapisi antara kaki dengan sesuatu yang akan dipijaknya. Dengan harga yang terjangkau, aku bisa dimiliki oleh semua orang. Baik kaya ataupun miskin. Tak mengenal derajat bangsawan ataupun masyarakat biasa. Tidak memandang profesi, petani, pekerja kantor, ibu rumah tangga, mahasiswa, dan lainnya.

Kami di produksi untuk siap menghadapi cuaca basah ataupun kering. Tak pernah mengeluh ketika dipenuhi kuman kaki. Tak marah ketika dihitamkan debu. Lagipula apa gunanya aku marah dan mengeluh jika akhirnya masuk tong sampah juga. Ketika salah satu taliku putus atau ketika aku telah usang dan menipis.

Kami tercipta untuk menemani langkah kaki ke pantai. Sang pemilik bercerita dengan laut sedangkan kami akan bermesraan dengan pasir. Atau setia mengawali langkah menuju puncak gunung. Sang pemilik akan berbahagia mencapai puncak sedangkan kami bercinta dengan lumut basah. Juga tak pernah letih menghabiskan waktu untuk bersua dengan lantai atau bersahabat dengan karpet. Semua siap kami jejaki.

Tetapi banyak hal yang membuat orang-orang ini harus mewaspadai memakaiku. Mereka memakaiku dengan mencengkram tali penunjang kehidupanku menggunakan dua jarinya, cengkraman yang terlalu sering tersebut dapat menyebabkan jarinya bengkok. Tali karet yang menggesek di antara dua jari kaki juga bisa menyebabkan kulit kaki menjadi melepuh. Dan aku didesain tidak memiliki lengkungan pendukung yang bisa menyebabkan tumit sakit jika memakainya berjalan jauh. Aku tidak memiliki penutup sehingga bisa menyebabkan kulit sang pemakai menjadi belang jika di gunakan di bawah terik matahari.

Paling tidak resiko itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan sepatu. Sepatu bisa menyebabkan kaki panas bahkan bisa menghasilkan bau apek. Apalagi sepatu berhak tinggi, benda ini dapat menyebabkan betis dan tumit menjadi sakit bahkan bisa menyebabkan varisies yang bisa mengakibatkan seseorang sulit untuk berjalan bahkan berdiri.

Walaupun terkadang aku dinista tapi tak dipungkiri kalau aku sangat dibutuhkan. Lucunya, walaupun hargaku cukup terjangkau, tak jarang aku diambil orang secara sengaja atau pun tidak sengaja. Seperti hari ini, meski umurku belum lama tetapi aku telah dikenakan oleh empat orang sekaligus. Mungkin ke empat orang itu memiliki hubungan tetapi mereka tak saling tahu kalau aku dikenakan satu dan lainnya. Jika keadaannya begini, kadang aku sedih karena tercipta dan menyebabkan dosa.

###

Kedua pemuda itu memasuki sebuah gedung yang memiliki bentuk berbeda dari pada gedung-gedung yang telah aku jejaki sebelumnya. Gedung ini lebih megah dengan desain interior yang sangat menarik. Keramik-keramik yang lebih mewah. Lebih enak di pijak.

DILARANG MEMAKAI KAOS OBLONG DAN SENDAL JEPIT

Mahasiswa yang mengenakanku membaca pengumuman itu. Pengumuman yang tertera di depan ruangan. Ditulis dengan huruf Arial berukuran 80 yang di cetak di atas kertas A4 di tempel tepat di tengah pintu kaca.

“Gimana ini?” tanyanya sambil melihatku.

“Tidak apa-apa!”

“Kamu yakin?”

Temannya tidak menjawab.

Mereka pun membuka pintu kaca itu. Seorang lelaki sedang sibuk dengan surat-surat, ia tampaknya menyadari kehadiran kedua mahasiswa tersebut.

“Mau apa kalian?”

“Mau ketemu Pembantu Rektor bagian Kemahasiswaan Pak.”

“Kalian baca tulisan di depan, memakai kaos oblong dan sendal jepit dilarang masuk?” Pertanyaannya terdengar sinis.

“Memangnya kenapa Pak, kalau kami pakai kaos oblong dan sendal jepit?

“Itu berarti tidak sopan.”

Aaah… lagi-lagi masalah ketidaksopanan. Mengapa dengan mengenakanku, seseorang dikatakan tidak sopan? Apakah karena mengenakanku diasosiakan dengan pergi ke kamar mandi atau WC? Atau karena hargaku yang terlalu murah? Apakah kesopanan di dunia manusia sebatas materi?

“Bukannya kami tidak sopan Pak, tapi…”

“Kami merasa terhina kalau kalian menggunakan sendal jepit.” Bapak itu langsung memotong pembicaraan sang mahasiswa.

Heh… dimana letak keterhinaannya? Aku yakin dia memakai sendal jepit bukan bermaksud menghina, begitu pula orang yang memakaiku untuk masuk kuliah, ia memakai sendal jepit tidak bermaksud menganggu jalannya perkuliahan.

“Siapa yang mau menghina Pak? Kami hanya ingin bertemu Bapak Pembantu Rektor. Kami menghormati beliau dan sepatu hanyalah teori etiket modern yang tidak harus digunakan. Hanya formalitas Pak!”

Yah tradisi bersepatu hanya teori etiket modern yang menyesatkan yang entah dibuat oleh siapa dan sejak kapan. Jika batasan akan kesopanan itu masih problematik, lalu bagaimana mungkin kesopanan yang sifatnya sangat subjektik dipakai untuk aturan kolektif? Mahasiswa memang baik, selalu membelaku.

“Dengan gaya berpakaian kalian itu berarti kalian menganggap remeh Pak PR dan institusi kita.”

“Awalnya tidak sopan, kemudian menghina sekarang menganggap remeh. Bapak ini ada-ada saja. Apa hubungannya semua itu? Itu hanya perasaan Bapak saja sebagai individu bukan sebuah penghormatan terhadap birokrasi. Bapak berpikir pakai apa sih?”

“Dasar, mahasiswa-mahasiswa tak berakhlak!”

“Tunggu dulu Pak. Apa hubungan akhlak dengan sendal jepit. Memangnya Tuhan menilai seseorang dari apa yang dikenakannya? Katanya ini kampus, katanya tempat ini adalah sarangnya orang intelektual, namun kenapa malah banyak yang berpikiran dangkal seperti Bapak? Bapak pasti lebih suka memakai sendal daripada sepatu yang membuat kaki berbau apek kan?”

“Kalian betul-betul mahasiswa kurang ajar! Keluar!” Suaranya terdengar begitu lantang. Menggema. Memantul di antara tembok-tembok bercat putih di ruangan tersebut.

“Ada apa ini?” Seorang lelaki bertubuh tinggi dan besar keluar dari sebuah ruangan. Ia mengenakan pakaian safari dan kakinya di alasi sendal jepit.

“Ini Pak, ada mahasiswa mau ketemu Bapak tapi mereka memakai kaos oblong dan sendal jepit, makanya saya larang masuk.”

“Hanya karena kami memakai kaos oblong dan sendal jepit dilarang ketemu Bapak, malah kami dikatakan tidak sopan, menghina bahkan meremehkan. Saya heran Pak!”

“Bukankah jauh lebih banyak yang lebih menyukai memakai sendal jepit daripada sepatu. Seharusnya asas demokrasi di mulai dari sini Pak. Sendal jepit tidak layak menjadi alasan tata krama atau sejumlah etika yang sebenarnya bukan milik kita,” sambung mahasiswa lainnya.

“Iya Pak, Bapak sendiri memakai sendal jepit, kenapa kami tidak bisa.”

“Itu dia Pak, Bapak pasti merasa lebih nyaman dengan menggunakan sendal itu. Sekarang, terlalu banyak barang yang dikomsumsi bukan berdasarkan fungsi tetapi hanyalah symbol belaka. Apalah guna mahasiswa berpakain bagus, rapi dan bersepatu tetapi tak berguna bagi masyarakat.”

Sang Bapak tampak kelimpungan mendapat serangan bertubi-tubi tersebut.

“Saya baru dari kamar kecil, jadi saya menggunakan ini agar tidak repot. Kami tidak bermaksud membelenggu kreativitas kalian dengan pelarangan menggunakan sendal jepit. Kami menyadari, birokrasi hanyalah manusia, tidak bersih dari nafsu, tetapi di tempat ini kami telah menyepakati untuk berpakaian rapi dan indikatornya itu tanpa kaos oblong dan sendal jepit. Saya tak usah menyampaikan banyak pembenaran mengenai ini. Sebenarnya maksud kalian menemui saya untuk apa?”

“Hmm… begini Pak, kami mau…”

“Kami mau mengurus beasiswa Pak!”

“Iya Pak, bagaimana caranya kami membeli sepatu, kalau biaya kos saja masih nunggak, makan pun harus ngutang.”

“Kalau begitu silahkan masuk!”

Kedua mahasiswa itu saling berpandangan, tampak begitu sumringah. Bapak yang ditemuinya di awal tampak mencibir ke arah mereka. Namun mereka tidak peduli mereka segera masuk ke ruangan Bapak Pembantu Rektor.

Aku pikir mereka ikhlas membelaku rupanya mereka juga menginginkan sepatu. Benda yang nantinya akan meletakkanku pada posisi terhina.


Read more!